Muhammad Azmi
Muhammad Azmi
Dari kelas Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak di Banjarmasin sampai membangun product di software house — terbaru di atas, mundur sampai ke titik awal.
Frontend Developer
Membangun internal ERP KDA — clock-in/out, task management, dan penilaian KPI untuk setiap divisi — memodernisasi landing page perusahaan sendiri dengan Next.js, mengerjakan site untuk client Indokripto yang fokus pada SEO, serta maintain internal SEO tooling.
What I learned
Frontend Developer
Stack baru — Nuxt, Sass, GSAP — satu minggu untuk adaptasi, lalu langsung terjun ke product launch Infinix: GT 30, Hot 60 Pro+ Free Fire Edition, Hot 60 Pro, dan lainnya. Deadline sering kali hanya 1–3 hari, dengan landing page yang di-localize untuk market di luar Indonesia.
What I learned
Frontend Developer
Project high-complexity pertama saya — memetakan workflow unit demi unit bersama dokter dan perawat, mengubah form kertas menjadi digital yang terintegrasi dengan requirement Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Berat, kadang cukup brutal, tapi project ini berhasil selesai dan berjalan.
What I learned
Fullstack Developer
Background vocational school bikin persaingan kerja cukup berat, jadi saya pilih ambil coding bootcamp daripada menunggu. Lulus dengan membangun dua fullstack project — Dumbflix, streaming site terinspirasi Netflix, dan Waysfood, platform online food delivery — keduanya dengan React dan Golang, di-deploy via Vercel dan Railway.
What I learned
Software Engineer (Internship)
Internship pertama, framework pertama — Laravel jadi perkenalan saya dengan web development di luar halaman statis.
What I learned
Software Engineering
Punya laptop sendiri dan masuk jurusan Software Engineering — titik awal yang sesungguhnya. Fundamentals dulu: Java, C++, membuat kalkulator sendiri, merancang database, membangun aplikasi Android pertama, sambil mempelajari HTML, CSS, dan JS di sepanjang jalan.
What I learned
Kid With Too Many Questions
Games yang membuat saya kecanduan komputer sejak umur 11 tahun — sekaligus penasaran bagaimana semua itu dibuat. Rasa penasaran itu cukup nekat: saya pernah mencoba, dan gagal total, membobol WiFi tetangga. Tidak berhasil, tapi tidak menghentikan saya — beberapa tahun kemudian saya menemukan komunitas custom ROM, mulai flashing HP sendiri di umur 15 tahun, dan tak lama teman-teman ikut antre minta HP-nya di-flash juga.
What I learned